Semarang termasuk di antara lima kota besar penyumbang sampah plastik di laut di Indonesia bagian barat.[1] Total sampah kota yang tidak tertangani diperkirakan sekitar 17-22% dari total timbulan sampah.[2][3] Diperkirakan total timbulan sampah Semarang adalah sekitar 1.270-1.388 ton/hari, di mana 965-1.054 ton (76,5%) dibuang di TPA Jatibarang. Pembuangan di TPA
WASTE EXPERT
BINTARI cooperation with CCBO (Clean Cities Blue Ocean) to improve Municipal Solid Waste Management (MSWM) in Semarang City have a goal to increase the waste recycling rate and reduce waste leakage into the ocean. TPS3R have an important role to collect and processing recycling material with contribution from the community
PROJECT COORDINATOR
Strengthening Climate Resilience of at-risk Coastal Communities in East Nusa Tenggara (NTT) as a Result of Improved Resource Management and Climate-Smart Livelihoods Bina Karta Lestari Foundation (BINTARI) in Semarang, Central Java supported by the Arbeiter Samariter Bund (ASB) and funded by the Federal Ministry for Economy Cooperation and Development, the
DESAIN KOMUNIKASI VISUAL (DKV) OFFICER
BINTARI merupakan lembaga swadaya masyarakat nasional bergerak dalam perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Berdiri sejak 1986, BINTARI berupaya menjadi mitra unggul dalam transformasi masyarakat yang berketahanan dan berkelanjutan dengan bekerjasama dengan berbagai pelaku pembangunan baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta dan lembaga internasional. Transformasi tersebut diwujudkan melalui program pendidikan untuk pembangunan

Siti Kusbandiyah : Selamanya Perosok Keliling
Mak Siti merupakan salah satu perosok keliling yang bergabung sebagai kolektor untuk aplikasi antar-jemput sampah Ambilin. Ambilin merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh BINTARI dan Program Rethinking Plastics serta The Incubation Network untuk mempermudah dan mempercepat layanan sampah, pengumpulan bahan daur ulang, dan donasi barang bekas di masyarakat serta pelaku daur

Mr. Supardi: “Build Back Better from Flooding through Waste Bank”
Mr. Supardi still remembers when he had an out of town trip at the end of January 2021 and received a call from village about flooding. The call shocked him, “It was uncommon disaster in Songbanyu since the last few years.” When he arrived, He saw how flash flood had


