BINTARI Presentasikan Konsep “Geography-Constrained Circularity” pada Our Ocean Conference Research Symposium 2026 di Mombasa, Kenya

Gambar 1. Presentasi dari Kristanto Irawan Putra tentang When Circularity meets Geography

Dalam rangkaian Our Ocean Conference (OOC) 2026, BINTARI berpartisipasi dalam Our Ocean Conference Research Symposium yang diselenggarakan pada 14–15 Juni 2026 di Mombasa, Kenya. Forum ilmiah internasional ini mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, organisasi masyarakat sipil, donor, serta praktisi kelautan dan lingkungan dari berbagai negara untuk berbagi hasil riset, pengalaman lapangan, dan solusi inovatif dalam mendukung pengelolaan laut yang berkelanjutan.

 

Pada kesempatan tersebut, BINTARI mempresentasikan hasil pembelajaran dari Program PLASMA-B (Plastic Waste Management for Biodiversity Protection) yang dilaksanakan di Kepulauan Lease dan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Indonesia. Presentasi ini mengangkat tantangan membangun ekonomi sirkular di wilayah kepulauan terpencil yang memiliki keterbatasan volume material, biaya transportasi yang tinggi, serta akses yang terbatas terhadap pasar daur ulang.

 

Dalam presentasi tersebut, BINTARI memperkenalkan konsep “Geography-Constrained Circularity”, yaitu kondisi ketika material yang secara teknis dapat didaur ulang tersedia di suatu wilayah, namun tidak dapat bersirkulasi secara optimal akibat hambatan geografis, skala ekonomi yang kecil, dan keterbatasan jaringan logistik.

 

Gambar 2. Infrastruktur tersembunyi di balik logistik material daur ulang di Pulau Rhun ke industri di Pulau Jawa

Melalui studi kasus Kepulauan Banda, BINTARI menelusuri perjalanan sampah plastik dari pulau-pulau kecil menuju pasar daur ulang regional. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi sirkular di wilayah kepulauan tidak hanya ditentukan oleh perubahan perilaku masyarakat atau ketersediaan teknologi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor geografis dan sistem transportasi antarpulau.

 

Salah satu respons paling menarik dari peserta symposium muncul ketika BINTARI menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Fakta ini memunculkan diskusi mengenai bagaimana sistem ekonomi sirkular dapat berjalan efektif ketika fasilitas daur ulang, pasar material, dan infrastruktur logistik hanya terkonsentrasi di beberapa wilayah utama.

 

Beberapa peserta juga mengajukan pertanyaan terkait peluang upcycling, pembiayaan transportasi material daur ulang dari pulau-pulau kecil, serta strategi jangka panjang untuk mengurangi timbulan sampah plastik dari sumbernya. Dalam sesi diskusi, moderator turut menekankan pentingnya pendekatan Refuse dan Reduce sebagai prioritas utama di wilayah kepulauan kecil, mengingat proses daur ulang sering kali memerlukan biaya logistik yang tinggi dan belum selalu layak secara ekonomi.

 

Gambar 3. Apresiasi untuk Oral dan Poster Presenter di Research Symposium

Presentasi BINTARI menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi Kepulauan Banda memiliki kesamaan dengan berbagai negara dan wilayah kepulauan kecil lainnya di dunia, termasuk Small Island Developing States (SIDS) di kawasan Pasifik, Karibia, dan Samudra Hindia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan model ekonomi sirkular yang lebih sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan, dengan mempertimbangkan faktor logistik, skala pasar, kapasitas kelembagaan, dan keterjangkauan teknologi.

 

Partisipasi BINTARI dalam forum ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu laboratorium pembelajaran penting dalam pengelolaan sampah plastik di wilayah kepulauan. Selain itu, forum ini membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dengan peneliti, donor, organisasi pembangunan, dan pembuat kebijakan yang memiliki perhatian terhadap isu pencemaran plastik laut, ekonomi sirkular, logistik kepulauan, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.

 

Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara, diharapkan dapat terbangun kerja sama yang lebih kuat untuk mengembangkan solusi pengelolaan sampah yang efektif, inklusif, dan sesuai dengan kondisi geografis wilayah kepulauan di seluruh dunia.

 

Bagikan :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *